Bahaya, 5 Parpol Terancam Tak Dapat Kursi DPR-RI Pileg 2019

Memasuki tahun 2018 yang baru berusia satu bulan, sudah banyak sekali survei yang dilakukan sebagai pemanasan suhu politik di tahun 2019 mendatang. Salah satunya dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada bulan Januari 2018. Di mana mereka mengungkapkan akan ada setidaknya lima partai politik (parpol) seniordalam status waspada.

 

Sekedar informasi, untuk mendapatkan kursi di DPR, partai politik harus meraih minimal 4 persen suara sah nasional pada pemilu legislatif 2019 mendatang. Hanya saja survei LSI menyebutkan jika hasil cukup mengkhawatirkan bagi PPP, Nasdem, PKS, PAN, dan Hanura karena perolehan suara mereka ada di bawah ambang batas, seperti dilansir Kompas.

 

Di mana PPP mendapatkan 3,5 persen, PKS 3,8 persen, PAN 2,0 persen, dan Hanura 0,7 persen. Hanya Nasdem yang perolehan suaranya sedikit di atas ambang batas, yakni 4,2 persen. Tetapi karena margin of error survei ini 2,9 persen, maka perolehan Nasdem masih tergolong riskan untuk tak lolos ambang batas parlemen 4 persen yang membuat kelima parpol itu sudah seharusnya mulai menyiapkan langkah antisipasi dalam kurun waktu setahun terakhir.

 

Peneliti LSI yakni Rully Akbar juga membeberkan hasil survei untuk partai lawas yang gagal dalam Pemilu 2014 di mana besar kemungkinan mereka gagal lagi yakni PKPI dengan 0,2 persen dan PBB cuma 0,3 persen suara. Lalu untuk parpol pendatang baru, langkah PSI akan cukup berat karena hanya memperoleh 0,3 persen suara survei. Hasil cukup mengejutkan datang dari Perindo yang berpeluang memperoleh 3,0 persen karena dibantu pada kekuatan media sang Ketua Umum, Hary Tanoesoedibjo.

 

Persaingan Ketat PDI-P dan Golkar

 

Rully menyebutkan jika barisan parpol baru dan papan bawah hanya akan bisa mendongkrak suara judi bola mereka dan lolos Parliamentary Threshold 2019 sebesar empat persen jika memiliki tokoh yang cukup kuat atau adanya fenomena politik luar biasa. Survei LSI ini sendiri dilakukan pada 7-14 Januari 2018 dengan total 1.200 responden berdasarkan Multistage Random Sampling di 34 provinsi.

 

Sementara itu LSI menyebutkan kalau pada tahun 2019, benturan politik terkuat akan terjadi pada dua parpol raksasa yakni PDI-P dan Golkar. Menurut survei itu, hanya dua partai politik ini yang memilki elektabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan suara Pemilu Legislatif 2014. Di mana berdasarkan survei LSI, PDI-P memperoleh suara 22,2 persen, lebih tinggi dibandingkan 2014 sebesar 18,95 persen. Sementara Golkar memperoleh 15,5, lebih tinggi dari tahun 2014 lalu, yakni 14,75 persen.

 

Jika hasil survei ini benar, maka petinggi Golkar bisa tersenyum. Karena survei LSI Agustus 2017 mencatat jika partai Beringin itu hanya 11,6 persen lalu naik pada Desember 2017 mencapai 13,8 persen. Hasil berbeda dimiliki PDI-P yang elektabilitasnya justru menurun di mana pada Agustus 2017 menyentuh 28,3 persen. Menurut Rully, naiknya pemilih Golkar dikarenakan pergantian kepemimpinan dari Setya Novanto ke Airlangga Hartarto.

 

2019 Jadi Momen Pemilu Tersulit di Dunia

 

Panasnya hawa politik tampaknya dirasakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Kalla, pelaksanaan Pemilu Legislatif dan Presiden secara serentak itu membuat rumit, bahkan paling rumit di tingkat dunia. Meskipun begitu, Indonesia dianggap relatif cukup aman dan lancar saat Pemilu digelar. Tercatat sudah 11 kali melaksanakan Pileg sejak tahun 1955, tak ada konflik sosial yang menimbulkan korban meskipun terjadinya gejolak sosial yang masih cukup wajar dalam dunia politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *